Mengenal Guardian, Kecerdasan Buatan Pendeteksi Penebangan Liar dengan Suara

Lembaga non-profit Komunitas Konservasi Indonesia Warung Informasi Konservasi (KKI Warsi) memiliki alat bernama Guardian, teknologi untuk mendeteksi dini penebangan liar dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Cara kerja teknologi ini adalah dengan menangkap suara terkait kegiatan perusakan hutan, misalnya penebangan pohon secara liar (illegal logging) dan perburuan ilegal.

KKI Warsi bekerja sama dengan National Committee of the Netherlands (IUCN), lembaga perserikatan Belanda yang bergerak di bidang konservasi dan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan. Melalui bantuan IUCN, KKI Warsi berhasil dipertemukan dengan lembaga non-profit asal Amerika Serikat, RFCX Rainforest Connection, yang kemudian mengembangkan alat analisa bioakustik tersebut.

Koordinator Program KKI Warsi, Riche Rahma Dewita, menerangkan, pihaknya sudah menggunakan Guardian sejak 2018. Menurutnya, alat itu membantu masyarakat di sekitar hutan nagari Sumpur Kudus Sijunjung, Sumatera Barat yang sudah melakukan praktik pengamanan dan perlindungan hutan sejak dahulu.

“Sejauh ini, terdapat 26 titik instalasi Guardian di area resmi pengawasan masyarakat seperti area hutan nagari,” ujar dia dalam keterangan tertulis pada Rabu, 22 Desember 2021.

Teknologi ini akan memilah berbagai jenis suara, seperti suara kendaraan, suara penebangan, dan suara tembakan, yang kemudian dikirimkan dalam bentuk notifikasi. Dengan kecerdasan penangkapan suara ini, maka aparat keamanan bisa mendeteksi lebih tepat kegiatan para penebang liar.

Aplikasi Guardian bisa diunduh di smartphone untuk menangkap dan mentransmisikan suara yang muncul di hutan. Smartphone ini lalu dikombinasikan dengan papan sirkuit cetak atau logic board, kotak tahan cuaca, solar panel sebagai daya listrik, dan antena direksional. “Mikrofon juga disertakan agar bisa menangkap suara sampai sejauh 1,5 km.”

Alat ini bisa dipasang di puncak kanopi hutan atau dedaunan pohon-pohon tropis dengan ketinggian yang bisa mencapai 30 meter. Data suara yang tertangkap ini lalu dikirimkan melalui streaming ke server cloud untuk dianalisa menggunakan model AI pendeteksi suara, khususnya suara-suara yang muncul

Secara teknis, alat ini masih bergantung kepada jaringan seluler internet. Dengan demikian, alat ini hanya bisa dipasang di wilayah yang berada di ketinggian yang cukup untuk menangkap jaringan seluler internet. Suara yang ditangkap akan dihimpun dan bisa diakses menggunakan aplikasi RFCX Ranger yang bisa diunggah di Google Play Store.

Ketika AI pendeteksi suara mengidentifikasi suara tertentu, tim KKI Warsi akan mengecek dan melakukan verifikasi suara. Jika terverifikasi sebagai kegiatan perusakan hutan, maka tim akan menghubungi Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) untuk melakukan patroli di tempat kejadian.

“Sebelum ada Guardian, kami memerlukan waktu setengah hari, sejak suara terdeteksi hingga verifikasi dan patroli. Sekarang, waktu yang dibutuhkan jauh lebih pendek sehingga lebih efektif, sekaligus membuat jera para pelaku illegal logging,” tutur Koordinator Unit KKI Warsi, Yudi Fernandes.

Ketua Lembaga Pengelolaan Hutan Nagari Sumpur Kudus, Syarifuddin, menambahkan bahwa sejak alat ini dipakai, maka sudah tidak ada lagi penebangan dalam skala besar yang ditemukan. Meskipun masih ada kasus penebangan kayu kecil (dua sampai tiga batang pohon), kata dia, tapi bisa diselesaikan secara adat.

“Guardian ini sangat membantu petugas parimbo yang bertugas mengawasi sekitar 3.828 hektare hutan nagari Sumpur Kudus,” ujar Syarifuddin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.